Tuesday, November 4, 2008

PMB Potensi “Nyrimpeti” PAN

PERSAINGAN sengit antara dua parpol membidik segmen pemilih yang sama bakal terjadi di daerah pemilihan (dapil) Jatim 1 (Surabaya, Sidoarjo). Peta politik itu bisa berlaku bagi Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Matahari Bangsa (PMB) pada Pemilu Legislatif 2009.

Pendapat itu dikemukakan pengamat politik dan hukum Slamet Hariyanto ketika dimintai komentarnya seputar peluang PAN dan PMB dalam memperebutkan konstituen Muhammadiyah di Surabaya. “Dalam kesejarahannya, nasib PAN di Surabaya tidak bisa lepas dari pilihan aspirasi politik Muhammadiyah dan simpatisannya” ujar Slamet.

Mantan anggota DPRD Jatim (1992-1997) yang sedang menyelesaikan studinya di S2 Ilmu Hukum Unair ini menggambarkan situasi heroik warga Muhammadiyah Surabaya ketika reformasi 1998 yang kemudian sangat mewarnai eksistensi PAN dalam menyongsong Pemilu Legislatif 1999 di ibukota Provinsi Jatim ini.

“Waktu itu elit PAN optimis bakal didukung juga kalangan luar Muhammadiyah sesuai dengan platform partai terbuka. Namun, faktanya hasil Pemilu 1999 menunjukkan PAN di Surabaya hanya mampu mengantongi 154.000 suara” paparnya. Jumlah itu, menurut Slamet, sangat identik dengan banyaknya warga yang menghadiri shalat Id di lapangan yang selalu digelar pimpinan daerah, cabang, dan ranting Muhammadiyah di Surabaya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sebenarnya pendukung PAN pada Pemilu 1999 itu tidak lain adalah dari warga Muhammadiyah dan simpatisannya.

Ternyata, prestasi yang “tidak seberapa” itu menempatkan PAN Surabaya sebagai rangking tertinggi di interen PAN se Jatim. Bahkan, dari segi prosentase perolehan suara, PAN Surabaya dapat sekitar 10 persen. Angka ini melebihi prosentase perolehan suara PAN secara nasional yang dapat sekitar 7 persen. Rangking kedua di PAN Jatim diduduki Lamongan.

Hasil Pemilu Legislatif 1999 bagi PAN tersebut mampu meraih 4 kursi DPRD Surabaya, 1 “kursi sisa” DPRD Jatim, dan 1 “kursi sisa” DPR RI. Modal politik dalam konteks perolehan suara ini tidak mampu dipertahankan PAN Surabaya pada Pemilu Legislatif 2004. Faktanya, suara PAN turun sekitar 51.000 suara atau mengalami penurunan sekitar 30 persen pada Pemilu Legislatif 2004.

Meski begitu, kursi PAN di DPRD Surabaya menjadi 5 kursi, karena diuntungkan sistim daerah pemilihan, meningkatnya golput, dan menurunnya batas Bilangan Pembagi Pemilihan (BPP). Hasil yang sama juga bisa mempertahankan masing-masing 1 kursi DPRD Jatim dan DPR RI dengan catatan tergolong “kursi sisa” karena perolehan kursi dibawah BPP.

Bagaimana peluang Pemilu 2009? Mantan ketua Mejelis Dikdasmen Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya 1995-2000 ini tidak melihat gejala yang spektakuler tentang bakal naiknya suara PAN Surabaya sehingga bisa melebihi perolehan suara pada Pemilu 1999. Dalam situasi politik seperti ini, lanjut Slamet, kehadiran PMB pada Pemilu 2009 bisa menjadi penghalang bagi bangkitnya PAN Surabaya.

Apakah PMB Surabaya bisa menyaingi PAN? Memang PMB tidak nampak gregetnya di permukaan. Tapi bisa “nyrimpeti” (berpotensi mengganggu) perolehan suara PAN di kota ini. “Kalau PAN tidak hati-hati, dan PMB kurang cerdas, bisa-bisa kedua parpol ini gagal meraih 1 kursi DPRD Jatim dan 1 kursi DPR RI dari dapil Jatim 1” prediksi Slamet. Logikanya, potensi suara PAN yang cukup untuk meraih 1 kursi sisa pada 2004 itu, tidak cukup lagi dipakai untuk meraih “kursi sisa” tersebut gara-gara konstituennya juga direbut PMB.

| 00lacak02