Friday, March 18, 2011

Sehari, Bom Buku Ciptakan 2.262 Berita

BOM BUKU sangat mujarab dalam menarik perhatian media massa. Bahkan menggeser berita seputar wikileaks, yang dalam seminggu terakhir hanya membuahkan sekitar 575 berita. Sementara bom buku dalam sehari mampu membuahkan 2.162 berita, sebagaimana
berhasil dijaring oleh google indonesia pada pk 13.32.

Berita seputar wikileaks dimaksud adalah adanya dua suratkabar Australia, The Age dan Sydney Morning Herald, yang mengutip informasi dari WikiLeaks, menuding Presiden SBY dan tokoh-tokoh di lingkar dekat kekuasaannya menyalahgunakan kekuasaan. Dua
surat kabar itu bahkan menuding keluarga SBY melakukan praktik korupsi.

Informasi yang disampaikan berita itu sangat menarik, meskipun masih diperlukan pembuktian atas kebenarannya. Yang pasti, "Berita yang dimuat di surat kabar Australia itu tentu bukan informasi sampah, bukan fiksi dan sekadar gosip karena bersumber dari kabel diplomatik. Karena itu, DPR harus menyelidiki sejauh mana kebenaran pemberitaan itu," kata Koordinator Petisi 28 Haris Rusli kepada wartawan di gedung DPR, Jakarta, Kamis (17/3).

Tetapi, pada kenyataannya, ketertarikan beragam media atas bom buku sangat luar biasa, yang diikuti dengan meluncurkan tulisan seputar bom buku lebih dari 2 ribu artikel pada 24 jam terakhir.

Belum diketahui pasti alasannya. Demikian pula alasan atas peluncuran paket bom buku, termasuk penetapan sasarannya yang, seperti diberitakan, Selasa (15/3/2011) antara lain memilih aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdalla, Ketua
BNN Komjen Pol Gories Mere, Ketua Umum Pemuda Pancasila Japto S Soejosoemarno, dan punggawa Band Dewa Ahmad Dhani.

Bereferensikan atas tokoh-tokoh yang telah menerima paket bom buku tersebut, disinyalir bom kuku ini juga beresiko bagi beberapa tokoh yang termasuk kategori penyuara perdamaian di Indonesia. Antara lain Ketua SETARA Institute Hendardi, Direktur Wahid The Institute Yenny Wahid dan pendiri TEMPO Goenawan Mohamad.

Hendardi melalui SETARA Institute kerap menolak aksi kekerasan terhadap Ahmadiyah. Hendardi jugapernah mengatakan saat ini posisi Pancasila sebagai ideologi negara semakin terancam oleh syariat Islam.

Sementara Yenny Wahid, melalui The Wahid Institute membangun pemikiran Islam moderat, yang mendorong terciptanya demokrasi, pluralisme agama-agama, multikulturalisme dan toleransi di kalangan kaum Muslim di Indonesia dan seluruh dunia.

Adapun Goenawan Mohamad, adalah seorang intelektual yang punya wawasan yang begitu luas dan out of the box. Bahkan pandangannya dianggap beberapa pihak sangat liberal dan terbuka. (priono subardan)