BERITA penggerebekan "Judi Dadu, anggota DPRD Ikut Main, Oknum Polisi Jadi Bandar" di Bojonegoro sekitar pukul 17.30 WIB, Senin (28/3/2011) mewarnai ragam pemberitaan nasional. Bahkan hingga hari ini, Rabu (30/3/2011), pk. 21.00 WIB tercatat 763 topik terkait menyebar di banyak media, lokal maupun nasional.
Sekalipun demikian "judi dadu di Bojonegoro" belum mampu menggeser perhatian media terhadap PSSI, yang sehari terakhir, pada Rabu (30/3/2011), pk. 21.00 WIB masih tercatat 585,000 berita tentang PSSI menyebar di media se-Indonesia.
Ada pun hasil penggerebekan diketahui adanya Anggota Komisi C DPRD Bojonegoro dari Partai Hanura, Sujono Budiono, dan anggota polisi yang bertugas di Sentra Pelayanan Kepolisian Kepolisian Resor Bojonegoro, Brigadir Kepala Dian Rizal Mabrur. Tersangka lainnya, Agus Hermawan (42) dan Kamari (48), keduanya warga Kelurahan Kepatihan, Lilik Sutrisno P (45) asal Kelurahan Kadipaten. Dua lainnya M Rozani (42) dan Heri Prasetyo asal Kelurahan Mojokampung.
Dari tujuh tersangka hanya satu yang ditahan, terbukti sebagai bandar dan dikenakan pasal 303 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dengan ancaman 10 tahun penjara.
Selain itu, Bripka Dian terancam hukuman berlapis, sanksi internal terkait kode etik profesi anggota Polri dan pidana umum. Antara lain bisa diberhentikan dengan tidak hormat bila pengadilan pidana menjatuhkan vonis minimal tiga bulan kurungan.
Guna menghindari adanya kebocoran informasi, penggerebekan itu dipimpin langsung oleh Kepala Kepolisian Resor Bojonegoro, Ajun Komisaris Besar Widodo. (priono subardan)
Wednesday, March 30, 2011
Monday, March 21, 2011
Pernikahan KD dan Raul Lemos Tanpa Media Besar
TERTATAT 148 ribu artikel bertebaran di sejumlah media online hari Senin (21/3/2011) terkait pernikahan Krisdayanti dan Raul Lemos yang menikah di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Minggu (20/3/2011). Namun, secara umum pernikahan mereka tanpa diikuti ekspose oleh media-media besar, layaknya seorang bintang.
Sebagaimana sebelum berpisah dengan Anang pada 18 Agustus 2009, media memposisikan Krisdayanti (KD) sebagai seorang diva besar yang sangat terkenal, tak luput dari ekspose media dalam kesehariannya.
Kini keberadaannya pun masih menarik perhatian media. Hanya kadar perhatian itu sedikit menurun, sebagaimana peristiwa pernikahan mereka, tanpa diikuti ekspose oleh media-media besar. Kalau pun masih ada yang mengangkatkan sebegai berita, itu pun sebagai sekadar informasi, dan bukan berita utama.
Hal ini sangat dimungkinkan dilatarbelakangi oleh asumsi telah lunturnya citra yang melekat pada diri KD, sebagaimana ketika masih bersanding dengan Anang Hermansyah, suaminya. Diakui atau tidak, perjalanan cinta KD dan Raul yang kontroversi, menorehkan coretan tersendiri pada citra KD.
Dalam kiatan ini, Media memang harus ekstra hati-hati dalam melakukan ekspose terhadap KD, terkait dengan citranya. Setidaknya tidak membuahkan antipati bagi masyarakat yang kontra terhadap pilihan hidup KD atas media yang melakukan ekspose.
Dampak negatif bagi media inilah yang harus dijaga oleh media itu sendiri. Toh kalau pun tidak mengekspose kegiatan KD, media tidak merugi, dan kebijakan inilah yang antara lain dimungkinkan mendasari pertimbangan media-media berita, untuk tidak mengeksposemya. (priono Subardan).
Sebagaimana sebelum berpisah dengan Anang pada 18 Agustus 2009, media memposisikan Krisdayanti (KD) sebagai seorang diva besar yang sangat terkenal, tak luput dari ekspose media dalam kesehariannya.
Kini keberadaannya pun masih menarik perhatian media. Hanya kadar perhatian itu sedikit menurun, sebagaimana peristiwa pernikahan mereka, tanpa diikuti ekspose oleh media-media besar. Kalau pun masih ada yang mengangkatkan sebegai berita, itu pun sebagai sekadar informasi, dan bukan berita utama.
Hal ini sangat dimungkinkan dilatarbelakangi oleh asumsi telah lunturnya citra yang melekat pada diri KD, sebagaimana ketika masih bersanding dengan Anang Hermansyah, suaminya. Diakui atau tidak, perjalanan cinta KD dan Raul yang kontroversi, menorehkan coretan tersendiri pada citra KD.
Dalam kiatan ini, Media memang harus ekstra hati-hati dalam melakukan ekspose terhadap KD, terkait dengan citranya. Setidaknya tidak membuahkan antipati bagi masyarakat yang kontra terhadap pilihan hidup KD atas media yang melakukan ekspose.
Dampak negatif bagi media inilah yang harus dijaga oleh media itu sendiri. Toh kalau pun tidak mengekspose kegiatan KD, media tidak merugi, dan kebijakan inilah yang antara lain dimungkinkan mendasari pertimbangan media-media berita, untuk tidak mengeksposemya. (priono Subardan).
Friday, March 18, 2011
Sehari, Bom Buku Ciptakan 2.262 Berita
BOM BUKU sangat mujarab dalam menarik perhatian media massa. Bahkan menggeser berita seputar wikileaks, yang dalam seminggu terakhir hanya membuahkan sekitar 575 berita. Sementara bom buku dalam sehari mampu membuahkan 2.162 berita, sebagaimana
berhasil dijaring oleh google indonesia pada pk 13.32.
Berita seputar wikileaks dimaksud adalah adanya dua suratkabar Australia, The Age dan Sydney Morning Herald, yang mengutip informasi dari WikiLeaks, menuding Presiden SBY dan tokoh-tokoh di lingkar dekat kekuasaannya menyalahgunakan kekuasaan. Dua
surat kabar itu bahkan menuding keluarga SBY melakukan praktik korupsi.
Informasi yang disampaikan berita itu sangat menarik, meskipun masih diperlukan pembuktian atas kebenarannya. Yang pasti, "Berita yang dimuat di surat kabar Australia itu tentu bukan informasi sampah, bukan fiksi dan sekadar gosip karena bersumber dari kabel diplomatik. Karena itu, DPR harus menyelidiki sejauh mana kebenaran pemberitaan itu," kata Koordinator Petisi 28 Haris Rusli kepada wartawan di gedung DPR, Jakarta, Kamis (17/3).
Tetapi, pada kenyataannya, ketertarikan beragam media atas bom buku sangat luar biasa, yang diikuti dengan meluncurkan tulisan seputar bom buku lebih dari 2 ribu artikel pada 24 jam terakhir.
Belum diketahui pasti alasannya. Demikian pula alasan atas peluncuran paket bom buku, termasuk penetapan sasarannya yang, seperti diberitakan, Selasa (15/3/2011) antara lain memilih aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdalla, Ketua
BNN Komjen Pol Gories Mere, Ketua Umum Pemuda Pancasila Japto S Soejosoemarno, dan punggawa Band Dewa Ahmad Dhani.
Bereferensikan atas tokoh-tokoh yang telah menerima paket bom buku tersebut, disinyalir bom kuku ini juga beresiko bagi beberapa tokoh yang termasuk kategori penyuara perdamaian di Indonesia. Antara lain Ketua SETARA Institute Hendardi, Direktur Wahid The Institute Yenny Wahid dan pendiri TEMPO Goenawan Mohamad.
Hendardi melalui SETARA Institute kerap menolak aksi kekerasan terhadap Ahmadiyah. Hendardi jugapernah mengatakan saat ini posisi Pancasila sebagai ideologi negara semakin terancam oleh syariat Islam.
Sementara Yenny Wahid, melalui The Wahid Institute membangun pemikiran Islam moderat, yang mendorong terciptanya demokrasi, pluralisme agama-agama, multikulturalisme dan toleransi di kalangan kaum Muslim di Indonesia dan seluruh dunia.
Adapun Goenawan Mohamad, adalah seorang intelektual yang punya wawasan yang begitu luas dan out of the box. Bahkan pandangannya dianggap beberapa pihak sangat liberal dan terbuka. (priono subardan)
berhasil dijaring oleh google indonesia pada pk 13.32.
Berita seputar wikileaks dimaksud adalah adanya dua suratkabar Australia, The Age dan Sydney Morning Herald, yang mengutip informasi dari WikiLeaks, menuding Presiden SBY dan tokoh-tokoh di lingkar dekat kekuasaannya menyalahgunakan kekuasaan. Dua
surat kabar itu bahkan menuding keluarga SBY melakukan praktik korupsi.
Informasi yang disampaikan berita itu sangat menarik, meskipun masih diperlukan pembuktian atas kebenarannya. Yang pasti, "Berita yang dimuat di surat kabar Australia itu tentu bukan informasi sampah, bukan fiksi dan sekadar gosip karena bersumber dari kabel diplomatik. Karena itu, DPR harus menyelidiki sejauh mana kebenaran pemberitaan itu," kata Koordinator Petisi 28 Haris Rusli kepada wartawan di gedung DPR, Jakarta, Kamis (17/3).
Tetapi, pada kenyataannya, ketertarikan beragam media atas bom buku sangat luar biasa, yang diikuti dengan meluncurkan tulisan seputar bom buku lebih dari 2 ribu artikel pada 24 jam terakhir.
Belum diketahui pasti alasannya. Demikian pula alasan atas peluncuran paket bom buku, termasuk penetapan sasarannya yang, seperti diberitakan, Selasa (15/3/2011) antara lain memilih aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdalla, Ketua
BNN Komjen Pol Gories Mere, Ketua Umum Pemuda Pancasila Japto S Soejosoemarno, dan punggawa Band Dewa Ahmad Dhani.
Bereferensikan atas tokoh-tokoh yang telah menerima paket bom buku tersebut, disinyalir bom kuku ini juga beresiko bagi beberapa tokoh yang termasuk kategori penyuara perdamaian di Indonesia. Antara lain Ketua SETARA Institute Hendardi, Direktur Wahid The Institute Yenny Wahid dan pendiri TEMPO Goenawan Mohamad.
Hendardi melalui SETARA Institute kerap menolak aksi kekerasan terhadap Ahmadiyah. Hendardi jugapernah mengatakan saat ini posisi Pancasila sebagai ideologi negara semakin terancam oleh syariat Islam.
Sementara Yenny Wahid, melalui The Wahid Institute membangun pemikiran Islam moderat, yang mendorong terciptanya demokrasi, pluralisme agama-agama, multikulturalisme dan toleransi di kalangan kaum Muslim di Indonesia dan seluruh dunia.
Adapun Goenawan Mohamad, adalah seorang intelektual yang punya wawasan yang begitu luas dan out of the box. Bahkan pandangannya dianggap beberapa pihak sangat liberal dan terbuka. (priono subardan)
Saturday, February 19, 2011
Sehari Terakhir 97 Berita FPI Menyebar di 10 Media
SEBANYAK 97 berita seputar FPI menjadi topik 9 (sembilan) media di Indonesia dan 1 (satu) media di Australia dalam sehari terakhir. Demikian catatan yang berhasil dilacak pada pk. 13.00.
Dari jumlah berita yang menyebar tersebut, beberapa di antaranya materi dan judul sama. Yakni PPP: Bubarkan Ahmadiyah, Pertahankan FPI, yang dirilis oleh Media Indonesia, Metro TV News, dan Vivanews.
Sementara JPNN.com, Suarasurabaya.net dan Tempo Interaktif merilis topik, dengan materi dan judul sama, "PPP Tolak Pembubaran FPI". Untuk topik ini media online Inilah.com merubah judulnya menjadi "PPP Tak Setuju FPI Dibubarkan".
Sedangkan media yang menyajikan topik FPI terbanyak adalah KOMPAS.com, tercatat melansir 10 topik. Urutan kedua masing-masing menurunkan 9 topik, yakni Inilah.com dan Okezone.
Tempo Interaktif, Metro TV News, dan Vivanews masing-masing menyebarkan berita seputar FPI sebanyak 7 topik. Detikcom 6 topik. Media Indonesia, Tribunnews, Republika Online masing-masing 5 topik.
Rakyat Merdeka menyajikan 4 topik. Liputan 6 (3 topik), dan 5 media masing-masing menurunkan 2 topik: Waspada Online, JPNN.com, WartaNews, TV One, Suarasurabaya.net.
Ada pun media yang sehari terakhir menurunkan 1 topik, antara lain Berita8, Bisnis Indonesia, Harian Analisa, Harian Global, Jawaban.com, Pos Kota, UPEKS Online, Surabaya Post, Suara Merdeka CyberNews, dan Radio Australia.
Selengkapnya Klik Tabel (Priono Subardan)
Dari jumlah berita yang menyebar tersebut, beberapa di antaranya materi dan judul sama. Yakni PPP: Bubarkan Ahmadiyah, Pertahankan FPI, yang dirilis oleh Media Indonesia, Metro TV News, dan Vivanews.
Sementara JPNN.com, Suarasurabaya.net dan Tempo Interaktif merilis topik, dengan materi dan judul sama, "PPP Tolak Pembubaran FPI". Untuk topik ini media online Inilah.com merubah judulnya menjadi "PPP Tak Setuju FPI Dibubarkan".
Sedangkan media yang menyajikan topik FPI terbanyak adalah KOMPAS.com, tercatat melansir 10 topik. Urutan kedua masing-masing menurunkan 9 topik, yakni Inilah.com dan Okezone.
Tempo Interaktif, Metro TV News, dan Vivanews masing-masing menyebarkan berita seputar FPI sebanyak 7 topik. Detikcom 6 topik. Media Indonesia, Tribunnews, Republika Online masing-masing 5 topik.
Rakyat Merdeka menyajikan 4 topik. Liputan 6 (3 topik), dan 5 media masing-masing menurunkan 2 topik: Waspada Online, JPNN.com, WartaNews, TV One, Suarasurabaya.net.
Ada pun media yang sehari terakhir menurunkan 1 topik, antara lain Berita8, Bisnis Indonesia, Harian Analisa, Harian Global, Jawaban.com, Pos Kota, UPEKS Online, Surabaya Post, Suara Merdeka CyberNews, dan Radio Australia.
Selengkapnya Klik Tabel (Priono Subardan)